Laman

Kamis, 02 Februari 2012

Kerupuk Jangek

Kerupuk jangek adalah salah satu makanan ringan yang bersumber dari kulit kerbau pilihan yang telah diolah secara tradisional untuk dapat langsung di konsumsi. Kerupuk Kulit ini juga sangat baik untuk mereka yang mengalami gejala penyakit mag. Kerupuk Jangek ini juga telah menjadi salah satu oleh-oleh dari Meulaboh Aceh Barat dan bila anda berminat dapat anda jumpai di swalayan-swalayan atau juga ada di Jln. Singgah Mata I Meulaboh Aceh Barat dengan harga Rp.90.000,-/Kg untuk model panjang dan Rp. 100.000,-/Kg untuk model petak. Kerupuk Jangek ini juga dapat di masak dalam aneka masakan sayur dan lain-lain.Teksturnya agak keras dan aromanya masih berbau agak amis. Namun perlu diketahui, bahwa mengkonsumsi kerupuk jangek ini sangat baik. Karena begitu banyak serat dan vitamin yang terkandung didalamnya. Anda jangan khawatir akan mengalami patah gigi, jika anda berhati-hati ketika menggigit kerupuk jangek ini.Bagi konsumen yang menggunakan gigi palsu, harap berhati-hati ketika menggigit kerupuk jangek ini.Karena kerupuk jangek ini bisa membuat gigi palsu anda minder untuk berkenalan dengan kerupuk jangek ini.Sebelum mengunyahnya, lebih baik anda melepaskan gigi palsu anda.Heeee.....becanda kale.....

Proses Pembuatan 

 

Untuk menghasilkan Kerupuk Kulit yang bekualitas, maka dibutuhkan kulit yang baik. Jika proses yang di lakukan dengan cara "Rebus" maka Kulit Kerbau yang baik adalah kulit yang berasal dari Kerbau Jantan Muda. Namun demikian, jika proses pembuatan yang dilakukan dengan cara pembakaran, maka kulit dari kerbau tua, muda, jantan atau betina dapat dijadikan bahan baku.

Rebus

Langkah awal dalam proses pembuatan kerupuk kulit dengan cara rebus ini adalah memilih kulit yang berasal dari kerbau jantan muda. Kulit Kerbau tersebut di potong menjadi 4 s/d 6 bagian untuk memudahkan dalam proses pembersihan. Setelah kulit kerbau di potong, kemudian di rendam dalam air panas beberapa saat sampai bulu pada kulit dapat dengan mudah di kelupas dengan tangan. Kemudian kulit kerbau dikeluarkan dari air panas dan selanjutnya membuang semua bulu pada kulit kerbau dengan menggunakan parang. Setelah proses pembersihan, selanjutnya kulit kerbau kembali di potong dengan ukuran kartu pos atau 5 cm x 20 cm untuk memudahkan proses masak selanjutnya. Kulit kerbau yang telah dipotong-potong dimasak dalam wadah masak selama 15 menit atau sampai warna kulit kerbau tersebut berubah mendekati putih bening (tidak pucat).

Cincang

Proses Cincang
Proses Cincang
Kulit Kerbau yang telah masak, kulit bagian dalam dibersihkan dan selanjutnya dipotong-potong dengan ukuran 1cm x 5cm atau sesuai selera.

Penjemuran

Sebelum kulit kerbau ini di jemur, terlebih dahulu kulit ini di cuci bersih dan di beri garam secukupnya. Jika cuaca cukup panas, maka waktu penjemuran cukup membutuhkan waktu 3 hari. Salah satu tanda kulit kerbau sudah cukup kering adalah kulit kerbau sudah sangat keras.

Penggorengan

Proses penggorengan Kerupuk Jangek ini dilakukan 2 (dua) kali untuk dapat dikonsumsi. Penggorengan awal dengan cara merendam dalam minyak goreng dengan api kompor kecil, setelah beberapa waktu dan kerupuk mulai mengembang, api kompor dapat di besarkan untuk memercepat kerupuk mengembang. Kerupuk yang telah mengembang dapat di angkat dan di tiriskan, kerupuk akan kembali mengecil. Langkah selanjutnya adalah menggoreng kerupuk untuk dapat dikonsumsi, penggorengan ke-2 ini dapat dilakukan seperti menggoreng kerupuk pada umumnya. Selamat Menikmati.


http://acehpedia.org/Kerupuk_Jangek

Manfaat Kulit Pisang

Anda tahu pisang?
Pernah makan pisang kan?
Terus kulitnya diapain tuh?
Ya dibuang lah ya…..emang nya mau diapain lagi?!
Hehehehe…..okay
Pernah terpikir ga untuk memanfaatkan kulit pisang itu lagi?
Hmmm….boleh dicoba ya
Nanti klo setelah makan pisang
Kulitnya dibuat menggosok sepatu kulit yang berwarna coklat
Nah…hal itu bagus untuk lapisan kulit sepatu anda
Bagian dalam dari kulit pisang mengandung potassium yang merupakan bahan penting yang terdapat dalam semir sepatu yang ada di pasaran. Setelah menggunakan kulit pisang untuk menyemir sepatu, bersihkan sisa kulit buah yang mengandung vitamin C, B komplek dan B6 itu dengan menggunakan lap berbahan halus. Kandungan minyak yang terdapat dalam pisang akan melembutkan serta mengawetkan kulit sepatu
Dengan menggunakan kulit pisang kita dapat mengurangi pemakaian semir sepatu yang bahannya tidak alami yang lama kelamaan akan mengurangi kualitas dari sepatu itu dan selain itu dengan menggunakan kulit pisang kita bisa mengurangi biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli semir sepatu.
Nah ada lagi…salah seorang yang menginformasikan bahwa kulit pisang juga bisa dijadikan cuka…..
Bagaimana caranya…
Ini dia….
Mula-mula kumpulkan kulit pisang sebanyak 100 kg dan lakukan proses produksi selama 4-5 minggu. Kebutuhan bahan-bahan lain mencakup: 20 kg gula pasir, 120 gr ammonium sulfit (NH4)2S03, 0,5 kg ragi roti (Saccharomyces cerevisiae) dan 25 liter induk cuka (Acetobacter aceti).
Cara rnembuatnya, kulit pisang dipotong-potong atau dicacah, lalu direbus dengan air sebanyak 150 liter. Saring dengan kain dalam stoples. Berdasarkan uji lapangan, bahan awal kulit pisang yang direbus itu akan menghasilkan cairan kulit pisang kira-kira 135 liter, bagian yang hilang 7,5 kg, dan sisa bahan padat sekitar 112,5 kg. Setelah disaring ke stoples, cairan kulit pisang ini perlu ditambah ammonium sulfit dan gula pasir.
Langkah berikut, didinginkan dan tambahkan ragi roti. Biarkan fermentasi berlangsung satu minggu. Hasilnya disaring lagi. Dari 135 liter cairan kulit pisang setelah difermentasi dan disaring menjadi 130 liter larutan beralkohol, dan lima liter produk yang tidak terpakai. Pada larutan beralkohol itu ditambahkan induk cuka, dan biarkan fermentasi berlangsung selama tiga minggu.
Selanjutnya, hasil fermentasi larutan beralkohol dididihkan. Nah, dalam kondisi masih panas, cuka pisang dimasukkan ke dalam botol plastik. Lalu segera ditutup dan disimpan dalam temperatur kamar. Biasanya pemasaran cuka pisang dikemas dalam plastik berukuran 40 ml, 60 ml, atau 80 ml. Jika dihitung, dari 100 kg kulit pisang akan diperoleh sekitar 120 liter cuka pisang.
Sebuah penelitian terhadap buah pisang dilakukan tiga dosen Universitas Negeri Yogyakarta. Sekali lagi untuk menjadikan pisang sebagai produk olahan yang disukai masyarakat dengan tetap memiliki kandungan gizi.
Yang menarik, penelitian yang dilakukan Das Salirawati MSi, Eddy Sulistyowati Apt MS, dan Retno Arianingrum MSi yang semuanya adalah dosen Jurusan Pendidikan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam adalah bukan dilakukan pada buahnya, tetapi pada kulitnya. Penelitian ini sukses menjadikan kulit pisang-yang selama ini lebih banyak dibuang-menjadi nata.
Nata adalah serat yang berbentuk seperti gel yang dibuat dengan memanfaatkan kerja bakteri Acetobacter xylinum. “Selama ini masyarakat telah mengenal produk nata de coco atau nata yang dibuat dari air kelapa. Nata dari kulit pisang sebenarnya sama dengan nata de coco, bedanya nata pisang dibuat dari bahan dasar kulit pisang,” katanya, Rabu (8/3).
Ide membuat nata dari kulit pisang, karena terinspirasi dari penelitian sebelumnya yang bisa membuat nata dari buah pisang. “Kenapa kemudian memilih kulit pisang karena selama ini kulit pisang tidak termanfaatkan dan hanya dibuang begitu saja. Padahal kulit pisang ini banyak ditemui di sekitar kita, antara lain di tempat-tempat orang jual gorengan,” ucapnya.
Proses pembuatan nata kulit pisang yang pertama adalah mengerok kulit bagian dalam buah pisang. Hasil kerokan itu kemudian diblender dan dicampur air bersih dengan perbandingan 1 : 2, lalu disaring guna mendapatkan air perasan. Setelah itu ditambahkan asam cuka biasa dengan ukuran 4-5 persen dari volume air perasan. Jika menggunakan asam cuka absolut maka cukup 0,8 persen. Ditambahkan juga pupuk ZA sebanyak 0,8 persen dari larutan, dan gula pasir sebanyak 10 persen. Bahan-bahan tersebut dicampurkan untuk kemudian dipanaskan sampai mendidih.
Asam cuka dan pupuk ZA berfungsi untuk media hidup bagi bakteri Acetobacter xylinum. Bakteri ini membutuhkan nitrogen dari pupuk ZA dan keasaman dari cuka. Acetobacter xylinum inilah yang nanti akan membentuk nata,” ujar Das.
Setelah mendidih lalu dituangkan dalam cetakan-cetakan. Dengan ketinggian cairan adonan lebih kurang 2-3 cm di setiap cetakan. Setelah dingin, dimasukkan bakteri Acetobacter xylinum-yang bisa dibeli dalam bentuk cairan-sebanyak 10 persen dari campuran. Sebelum memasukkan bakteri, adonan harus benar-benar dingin, sebab kalau masih panas bakteri akan mati. Setelah itu, cetakan ditutup dengan kertas koran. Ini supaya udara tetap bisa masuk melalui pori-pori kertas. Setelah dua minggu, cetakan baru boleh dibuka. Adonan pun akan berubah menjadi berbentuk gel.

 Nata lalu diiris-iris, dicuci, dan diperas sampai kering. Untuk selanjutnya direbus lagi dengan air lebih kurang dua kali rebusan. Ini berfungsi untuk menghilangkan aroma asam cuka. Setelah selesai, nata bisa dicampur dengan sirop atau gula sesuai selera. Campuran rasa diperlukan karena nata berasa tawar. Nata dari kulit pisang pun siap disajikan untuk minuman, maupun makanan kecil lain. Diketahui dari 100 gram nata kulit pisang mengandung protein sebanyak 12 mg. Das Salirawati mengungkapkan, penelitian itu akan dilanjutkan untuk mencari ketebalan nata yang paling optimal. Dari percobaan awal, diketahui dari ketebalan cairan adonan dua cm diperoleh nata lebih kurang 1,5 cm. Masyarakat dipersilakan jika ingin mencoba membuat nata dari kulit pisang. “Ini bisa untuk usaha alternatif skala kecil,” tuturnya


http://recyclegreen.wordpress.com/tag/nata-kulit-pisang/